Sabtu, 24 Mei 2014

Transportasi Umum

Tempat kerja yang jauh gak memungkinkan gue untuk selalu minta anter-jemput langsung ke kantor. Otomatis, sekarang gue akrab dengan transportasi umum seperti TransJakarta, Kopaja, Metro dan sejenisnya.



Gue punya banyak keluhan tentang transportasi umum di Indonesia. Transportasi disini sangatlah jauh dari kata “Nyaman”. Istilah Kejar Setoran kerap kali membuat banyak supir dan kondektur yang memaksakan penumpang berdesak desakan. Belum lagi macet yang disebabkan keegoisan pengguna jalan, banyak pengguna mobil pribadi dan sepeda motor yang menggunakan jalur khusus TransJakarta. 

Bagaimana transportasi umum dapat banyak diminati dan digunakan masyarakat bila pelayanannya tidak nyaman?.

Gue juga punya pengalaman buruk dengan Metro Mini. Gue pergi ke Blok M menggunakan Metro Mini 610 jurusan Pondok Labu – Blok M. Waktu itu gue lengah, tas gue dibuka seseorang dari belakang dan dompet beserta isinya pun raib entah kemana.

Dan hari ini pengalaman buruk gue dengan transportasi umum bertambah. Sepulang dari kantor, gue memutuskan untuk menggunakan Kopaja P20 (yang biasa bukan AC) jurusan Senen – Lebak Bulus. 


Sialnya Kopaja yang gue tempatin sekarang mau istirahat, alhasil gue diturunin dijalan. Gue diturunin didaerah Mampang Prapatan. Dari situ gue udah nyesel kenapa gak naik P20 AC aja sekalian. Perasaan gue mulai nggak enak. Gue cukup lama nunggu kopaja yang selanjutnya datang. Gue duduk paling belakang deket jendela sebelah kanan. 



Perjalanan berlanjut sampai daerah Warung Jati ada seorang bapak-bapak berdiri didepan gue, ciri cirinya kayanya seumuran bapak gue, kulitnya hitam terbakar matahari, dia pake ransel ditaro didepan, keliatannya juga ranselnya gak berat. 

Dia nyuruh gue geser ketengah sebelah kiri, gue gak ngerti mau dia apa, akhirnya itu bapak-bapak duduk disebelah kanan gue. Rada kesel juga yang harusnya gue adem dideket jendela malah disuruh pindah. Gue nurut aja dengan pikiran kalo ini bapak-bapak gak kuat panas.

Gak lama setelah itu, didaerah Pejaten ada bapak-bapak lagi yang berdiri didepan gue, ciri cirinya orangnya rada gemuk, perawakannya serem, kulitnya hitam gelap, dikakinya ada perban, dia membagikan brosur buram yang berisi tentang promosi pijat refleksi, dia membagikannya hanya ke gue dan bapak-bapak sebelah kanan gue tadi.

Terus bapak-bapak disebelah gue itu kaya sok sok nanya tentang pijat refleksi itu. Orang didepan gue itu pun dengan semangatnya menjelaskan tentang promosi itu sambil mencontohkan pijatannya.

Tak lama kemudian orang itu beralih memijat kaki gue. Sontak gue berontak dengan alasan kaki gue gak kenapa-napa. Gue risih banget, dia kaya sok akrab banget sama gue. Gue udah gak mau tapi itu orang maksa, dan kaki gue malah ditarik-tarik.

Keadan mulai gaduh, saat itu juga gue merasa kantong celana bagian kanan gue ada yang merogoh, refleks itu menarik perhatian gue yang tadi sedang emosi. Gue gak bisa liat jelas tangan orang yang merogoh kantong celana gue karena ada tas yang menghalanginya, yang jelas setelah gue menoleh kearah bapak-bapak sebelah kanan gue itu gerakannya berhenti.

Gue paham sekarang, ternyata gue sedang dalam modus pencopetan, segera gue pindah duduk kedepan dan gue teriakin kedua orang itu copet, si bapak-bapak yang tadi duduk sebelah gue marah marah gak jelas, dia malah turun dan kabur. 

Udah kepergok mengelak, dan kalau memang dia gak niat nyopet kenapa harus kabur?

Penumpang yang lain mulai melihat kearah gue dan menanyakan keadaan gue, tapi herannya kenapa si kondektur gak mencoba untuk memberhentikan orang itu? Malah membiarkannya kabur begitu saja.

Dari situ gue menebak bahwa kondektur dan supir sama sama berkomplotan dengan kedua pencopet tadi.

Gue bersyukur banget karena masih diberi keselamatan. Bersyukur karena disadarkan saat dalam bahaya. Bersyukur Blackberry ngeselin gue gak nyusul dompet kesayangan gue yang hilang.


Terima kasih buat doa keselamatan dari orang orang tersayang gue. Terima kasih juga buat silicon case dari Icha yang bikin BlackBerry gue semakin tebal yang membuat si pencopet kesulitan menggambilnya dari kantong celana gue.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar